Sabtu, 21 Juni 2014

Puisi Propaganda



PROKLAMASI JILID TERAKHIR
Oleh : S Yoga

Dengan ini kami bangsa Indonesia menyatakan
Anda diberhentikan secara tidak hormat
Dari nafsu syahwat kekuasaan yang berlebihan

Hal-hal yang menyangkut tingkah pongah
Dan perilaku kelam di masa lalu
Biarlah menjadi rahasia umum

Atas nama rakyat Indonesia
Boleh siapa saja

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (1)
Oleh: S Yoga

Tuhan
Berikan suaraMu
Di bilik-bilik suara

Agar kebenaran dan moralitas tetap terjaga
Agar kemuliaan manusia tetap nyata

Sampai jumpa Tuhan
Di bilik-bilik suaraMu
Yang paling dalam

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (2)
Oleh : S Yoga

Di Manado, tanah kelahiran Ibundanya
Calon pemimpin kita di atas panggung berteriak
Ayah dan Ibu saya berbeda agama
Kakak-kakak, adik dan keyakinan saya sekarang ini
Juga berbeda-beda, saya sangat menghormati
Dan menjunjung tinggi perbedaan keyakinan
Sekali lagi, salam dua jari, pilih nomor dua

Di Indramayu dari atas panggung yang ambruk
Calon pemimpin kita sekuat tenaga menepis
Kenapa keyakinan saya dan orang tua saya
Dipertetangkan dengan kampanye hitam
Padahal kami memiliki keimanan yang sama
Tentu semua orang sudah tahu apa jawabannya
Sekali lagi, salam satu jari, pilih nomor satu

Tuhan
Kini kami menunggu giliranMu untuk memilih
Di bilik-bilik suara yang paling rahasia

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (3)
Oleh : S Yoga

Ini hanyalah masalah duniawi
Kenapa semua orang yang tiap hari
Rajin ibadah dan mengaji

Ketika di depan dunia maya dan televisi
Tiba-tiba menjadi pencemooh, fitnah dan pembenci
Rasa dengki itu hanya akan mengkikis keimanan

Bobot, bibit, bebet, begitu kata orang Jawa
Yang memiliki integritas spiritualitas yang tinggi
Dan moralitas yang terjaga ialah yang berhak

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (4)
Oleh : S Yoga

Di negeri dongeng
Persengkongkolan antara binatang dan manusia
Sudah biasa terjadi yang bermuara pada kekuasaan

Lihatlah kini si politikus kutu loncat
Melompat kesana kemari, mencari daun-daun
Kekuasaan di pohon-pohon tohor tak berakar

Lihat pula si pemimpin bunglon telah menyalin rupa
Menjadi si bijak, penderma dan si amanah
Yang dikelilingi oleh para kadal, tokek dan tikus kantor

Kini perutku menjadi mual setelah melihat sihir manis
Para binatangisme yang hilir mudik di layar kaca
Memamerkan syahwat kekuasaan yang begitu telanjang

Juni 2014


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (5)
Oleh : S Yoga

Wiji Tukul menyatakan
Hanya satu kata
Lawan

Rakyat menyatakan
Orang baik harus didukung
Dan dipilih

Juni 2014


SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (6)
Oleh : S Yoga

Tuhan, di negeri dongeng
Kenapa moral, ras, dan agama
menjadi alat permainan dan perdagangan
Bahkan oleh para binatang

Tuhan, di negeri dongeng
Kenapa para binatang
Kini memiliki akal sehat
Yang melebihi akal manusia

Tuhan, di negeri dongeng
Berikan kami kekuatan dan pengetahuan
Untuk bisa memilih dan membedakan
Dua mahkluk hidup itu

Juni 2014
  
SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (7)
Oleh : S Yoga

Di bilik suara
Kalau ada yang lebih baik
Kenapa harus yang lain

Di bilik suara
Kalau ada yang amanah dan bermartabat
Kenapa harus yang lain

Kenapa harus yang lain
Kalau suaramu
Adalah suara Tuhan

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (8)
Oleh : S Yoga

Tuhan
Beri aku waktu
Untuk memilihmu
Dengan sebaik-baiknya
Dan sebijak-bijaknya

Tuhan
Beri aku petunjuk
Untuk selalu berada di muaraMu
Diantara arus keduniawian
Pilihkan aku satu jalan menuju bilikMu

Juni 2014

SUARA RAKYAT SUARA TUHAN (9)
Oleh : S Yoga

Ada dua jalan yang harus kita pilih
Apakah jalan kebaikan
Atau jalan kebatilan

Salah satu jalan di antaranya
Dibuat oleh para pembohong
Yang selalu menyaru dan merayu setiap waktu

Juni 2014



Senin, 26 Desember 2011

Jumat, 14 Oktober 2011

SABDA DARI NERAKA

SABDA DARI NERAKA

Oleh : S Yoga

Dari beberapa manuskrip puisi dalam rangka lomba FSS 2011, brtema anomali, rata-rata puisi yang ada masih dalam eksplorasi bahasa yang standar, dengan capaian puitik yang juga sama, dengan yang sering kita jumpai di koran-koran, kecuali dua manuskrip dan salah satunya Syair Pemanggul Mayat karya Indra Tjahyadi. Puisi-puisi Indra merupakan apokaliptik, surealisme, dengan bahasa teror, menderam, liar dan tak terduga, ada keterputusan gramatikal dan kekacuan pikiran. Membuat kita tersesat dalam strukturalisme puisi-puisinya. Indra berdiri dari realitas yang asing, sebuah menara kegelapan sambil memfirmankan, sabda dari neraka dunia. Dan kegelapan ini telah membawaku sampai pada sebuah/sungai, tempat mereka membakar mayat-mayat tak/dikenal......hujan merah yang memancar dari wajah/iblis yang mengangkut seribu kisah bayang-bayang/dan kegelapan, sajak Inferno. Membaca puisi-puisi Indra, saya teringat lukisan Salvador Dali, ada jam dan perempuan meleleh, serta lukisan-lukisan surealisme yang menakjubkan, ganjil, unik dan anomali.

Bagi Indra surealisme adalah jawaban dan gambaran yang tepat dari realitas sosial yang mencekam, represif dan informasi yang tak bisa dipercaya. Hingga tema puisi-puisinya didominasi kecemasan, seolah dunia merupakan neraka dan harus dihancurkan guna memulai tatanan dunia baru. Surealisme, super realis, “yang melampaui kenyataan”, begitu menurut pencipta istilah tersebut; Guillaume Apollinaire, mulai diperkenalkan oleh Andre Brenton-penyair Perancis, pada tahun 1924, ia mencetuskan Manifesto Surealisme. Andre Breton menyerukan pembebasan potensi-potensi terpendam dalam diri manusia, di alam bawah sadar, yang telah terkekang oleh rasio dan kebiasaan, membiarkan imajinasi liar bekerja secara bebas.

Dalam puisi-puisi surealisme, apokaliptik, penyair berharap menemukan paduan antar kata dalam sebuah metafor yang mengejutkan dan baru, tidak terpancang pada logika struktural dan konvensi umum sebuah puisi. Mereka mencoba menerapkan temuan psikoanalisis Sigmun Freud dari Austria antara tegangan id dan ego. Yakni antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego). Freud percaya bahwa, mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat-hasrat, yang ada di pikiran bawah sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya; dalam mimpi, mitos, corak kelakuan ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan dan seni. Dalam pencarian untuk mendapatkan akses ke alam pikiran bawah sadar, para surealis menciptakan bentuk dan teknik baru seni yang radikal.

Puisi gelap, apokaliptik dan surealisme, tidak rasional, sebenarnya sudah marak pada tahun 1950-1960, di mana pada waktu itu banyak puisi yang susah dimengerti dan dinikmati. Kemudian muncul juga pada tahun 70 dan 80-an, misal lewat puisi-puisi penyair Kriapur, Solo. Seolah gelombang yang secara siklus terus mengempur kesadaran rasional kita di zaman modern. Puisi-puisi dalam Syair Pemanggul Mayat, seolah-olah melakukan pelarian kedalam keterasingan terhadap pikiran-pikiran pembaca, mengambil jarak, menjauhi akal sehat dan imajinasi pembacanya. Puisi-puisinya sangat subjektif, alienasi dirinya terhadap dunia sekitarnya. Sarat imajinasi, pembebasan imaji, dan metafor, kata-kata adalah imajinasi. Yang seringkali meloncat-loncat, tidak sinkron, retak-retak dari bangunan imaji sebelumnya. Puisi dipahami sebagai sebuah teks (writerlytext) yang cerai berai, retakan-retakan peristiwa. Dalam gelap rimba imajinasi, kita berharap bisa mendapatkan sejumput kearifan dan keindahan yang dilanturkan. Diperlukan studi intertektualitas-Julia Kristeva, untuk menguak modus operandi puisi yang tidak bisa sekedar didekati dengan strukturalisme. Macam puisi Indra Tjahyadi dan Afrizal Malna. Bila dalam puisi-puisi Afrizal Malna melakukan teror lewat diksi-diksi urban-budaya masa, Indra melakukan teror lewat maut, kecemasan, kehampaan, anomali dan hal-hal yang seram-seram. Seolah sabda dari neraka.

Karena itu dalam menelaah puisi semacam ini, perlulah juga melihat struktural semiotik dan latar seting sosial budaya. Di mana kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, di mana kepastian politik, sosial, dan hukum (ketidakadilan) sangat berperan. Namun kegelisahan Indra dalam manifestasinya tidak muncul dalam karya sastra kritik sosial atau puisi protes. Indra lebih memilih dalam gambaran dari bentuk pemerintahan yang reprensif itu sendiri. Dalam wadah sebuah ekspresi simbolik yang subyektif. Yang mencerminkan sebuah zaman kegelapan, di mana struktur kekuasaan yang otoriter dalam tataran sosial, ekonomi dan hukum begitu dominan, keterasingan masyarakat begitu mengedepan. Maka puisi-puisi Indra benar-benar kelam, cemas, seram, gelap, erotis, liar, sebagai bentuk perlawanan realitas sosial yang ada, yang ingar-bingar dengan kekerasan, penembakan, pembunuhan, pengusuran dan ketidakadilan yang merajalela, di mana hukum menjadi barang dagangan dan kebijakan menjadi persengkongkolan (partai) politik.

Sehingga wajar bila judul-judul puisi Indra yang serba seram, menakutkan dan liar; Kembali ke Neraka, Syair Penyair Pemanggul Mayat, Jisim Requim Muram Hantu-Hantu, Hantu Pasir, Siulan Hitam Raut Kematian, Kulukis Mayatku, Terkurung di Dasar Maut, Mata Mayat Penyembelih Kupu. Kata-kata neraka, maut, labirin, mayat, hantu, kematian, kegelapan dan bayang-bayang seolah-olah menjadi kata-kata kunci dalam puisi-puisi Indra.

Rupanya Indra lebih memilih sebuah paradigma atau ideologi dalam perjuangan literernya yakni surealisme yang cenderung kedalam kegelapan, di mana bentuk-bentuk strukturalisme kaku ia tentang. Hingga bila memahami puisi Indra dengan cara strukturalisme baku maka akan sia-sia, yang akan ditemui hanyalah kegelapan semata. Karena puisi Indra adalah retakan-retakan realitas yang tidak bisa atau terpahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada, realitas yang ada bagai jaring-jaring labirin yang tak bisa diurai dan ditemukan siapa pelaku, bagaimana bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana bisa keluar dari kenyataan yang ada. Indra tak bisa memahami realita itu semua, karena yang ada hanya kabar burung tanpa ada sebuah kebenaran yang bisa dipengang.

Bila hingga kini Indra masih tekun menulis dengan cara demikian, puisi apokalitik, gelap, surealisme, berarti ia masih meyakini bahwa pada zaman sekarang ini, yang katanya menjunjung demokratisasi dan keterbukaan ternyata masih menyimpan labirin-labirin kegelapan yang susah untuk dibongkar, semisal mafia peradilan dan korupsi rente dalam sebuah birokrasi. Maka Indra memilih menjelajahi dan merayakan alam mimpi dan pikiran bawah sadar, yang menekankan pada irasionalitas kemanusiaan.

***

S Yoga

Penyair, prosais dan esais.

Anggota Komite Sastra DK-Jatim.








SEPOTONG CINTA YANG TERBELAH

SEPOTONG CINTA YANG TERBELAH

Oleh : S Yoga

Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya cerpen-cerpen yang biasanya kita kenal di media masa, atau lebih dikenal dengan cerpen koran, cenderung bersifat informatif, dari berita ke cerita. Mereka mencoba mengekalkan laporan jurnalistik ke dalam sebentuk cerita. Kadang-kadang tanpa memperhatikan seluk beluk hakikat cerpen itu sendiri, seolah-olah cerpen hanyalah tulisan informatif, bahasa menjadi alat penyampaian pesan, tanpa memperhatikan bagaimana cerpen itu sesungguhnya dipertaruhkan. Apa sekedar dengan tema besar, pesan menohok, alur-plot dramatik, penuh suspens yang dipaksakan. Atau sebenarnya cerpen hanyalah hakikat sastra itu sendiri yakni tulisan, di mana tulisan atau lebih tepatnya racikan cerita mampu memberikan kehidupan tersendiri bagi cerita yang hendak dikisahkan.

Memang seringkali kita jumpai kisah dalam cerpen-cerpen koran pada umumnya telah tersingkir, dan hal ini telah disinyalir oleh Kutowijoyo dekade 90an. Dan yang lebih mengedepan adalah pesan, yang mengendarai bahasa, bahkan lebih tragisnya, pesan itu pada prinsipnya bukan suara tokoh-tokoh dalam kisah tersebut, mereka hanya dipinjam namanya untuk menyuarakan opini pengarangnya. Maka tak heran kalau kita jumpai banyak cerpen seolah artikel opini, yang kebetulan dibuatkan kisah, seting, alur dan tokoh. Cerpen berubah fungsi menjadi juru kampanye kemiskinan, kebenaran, politik-sosial-hukum, ketidakadilan, dan tentu saja cinta yang melankolis. Cara ungkap mereka seperti sastra didaktis, moral yang tersurat. Mereka mengabaikan kesadaran berbahasa, pernak-pernik dan detail, rincian cerita, serta kesabaran berkisah.

Ibarat sebuah lukisan, semua detail-detail, pernik-pernik obyek lukisan mampu dituangkan ke dalam kanvas dengan baik sehingga ujud yang hendak dikisahkan benar-benar sempurna. Kalau mau melukis wajah maka semua elemen wajah, bahkan hingga pori-porinya dapat terdeteksi, begitulah dunia cerpen sebenarnya terwujud, tentu saja dengan suntingan agar cerita tetap wajar dan memikat, di mana daya simpati dan empati tetap terjaga. Kadang kita membaca tanpa sadar terombaang-ambing ke dalam cerita itu karena tidak dapat menebak racikan cerita berikutnya. Pembaca menjadi subyek aktif dalam kisah yang dibacanya. Bukan menjadi obyek sang pengarang dalam menyampaikan pesan, seolah-olah mendudukkan si pembaca sebagai seseorang yang bodoh dan perlu dikhotbahi, diceramai tentang kebajikan dan lain-lain. Dengan bahasa yang gagah bak politisi, kyai, pendeta, pejabat, memberikan wejangan pada pembaca, seolah kebenaran hanya mereka yang tahu.

Demikianlah gambaran umum lomba manuskrip cerpen FSS 2011 yang mengambil tema Anomali, bahasa cerpen didudukkan pada bahasa sebagai alat penyampian pesan, bahkan berusaha sebagai agen perubahan, tak beda dengan watak jurnalistik. Padahal kita tahu sastra adalah kisah itu sendiri, yang memberikan keaktifan kepada pembaca untuk menafsir ulang, bahkan berulang-ulang, akan menemukan hal yang baru, tidak sekedar kesan dan pesan yang tersurat. Ada pernik-pernik yang menarik di dalamnya, bisa cerita itu sendiri, bahasa, racikan bercerita. Pernik-pernik inilah yang bisa membuat sebuah cerpen menjadi menarik dan memikat. Tidak terburu-buru menjalin kronologis demi mengejar dramatik, sehingga bahasa menjadi propaganda si penulis dalam menyampaikan pesan, bahasa menjadi tidak wajar. Mestinya bahasa tumbuh dari darah dan daging kisah dan tokoh yang ada dalam cerita itu.

Bahkan sebagian besar peserta lomba tidak siap dengan apa yang dinamakan manuskrip lomba cerpen, sehingga antar lini cerpen tidak memiliki kekuatan yang merata. Misal dari 10/15 cerpen yang ada, hanya 3-5 cerpen saja yang memiliki kekuatan atau unggulan, lainnya hanya untuk memenuhi ketebalan halaman. Kumpulan cerpen itu menjadi njomplang, tidak seimbang. Namun untunglah kita menemukan manuskrip cerpen La Rangku, yang antar lini cerpennya memiliki keseimbangan kualitas, sehingga layak untuk diterbitkan ke dalam sebuah kumpulan cerpen.

La Rangku, sendiri merupakan tokoh dalam mitos, cerita rakyat suku, masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara, yang dikorbankan orang tuanya guna menggapai sesuatu yang diinginkan. Dalam tradisi masyarakat Muna kemudian dikenal dengan festival layang-layang setelah panen tiba, sebagai penghormatan. Dalam manuskrip La Rangku karya Erlang Niduparas, bahasa sebagai piranti cerita cukup disadari, kesadaran berbahasanya cukup tinggi dalam kaitan cerpen sebagai karya sastra, sehingga ceritanya nampak hidup, bukan dihidupkan dengan bahasa pesan pengarangnya, namun bahasa mensublim dalam bentuk cerita. Dari peristiwa ke peristiwa mampu ia racik dengan kesadaran bahasa yang baik. Tidak seperti umumnya cerpen koran yang ada, meski cerpen-cerpen ini sebagian juga dimuat di koran. Namun mampu menunjukkan jati dirinya sebagai cerpen yang benar-benar berwatak sastra. Tema atau motif utama kadang hanya dikesankan dan disiratkan saja.

Semua cerpen dalam La Rangku, diikat dalam tema utama, yakni tentang cinta (pengorbanan, perceraian, perselingkuhan, cinta terlarang, ketersaingan dan kehilangan). Tema ini memang sangat umum dan biasa-biasa saja, namun demikian di tangan Erlang Niduparas, kisah tersebut menjadi unik dan menarik, misal dalam Gaco, yang merupakan sebuah alat dan permainan anak-anak, yang bisa berubah menjadi simbol perselingkuhan dan seksualitas. Demikian juga dengan judul-judul lainya semisal Sula, Tarawengkal dan La Rangku, yang memanfaatkan tradisi dan kisah rakyat menjadi cerita yang menarik tentang terkoyak dan terbelahnya cinta manusia. Entah kebetulan atau tidak dari masing-masing cerpen ada yang interteks, saling terkait-mengisi-berkelindan dalam keterbelahan cinta. Ada kegetiran dan ironi dalam beberapa karya-karyanya yang dibalut kemiskinan. Bagaimana memaknai rasa cinta kasih dalam deraan kemiskinan, di mana tokoh-tokohnya melarikan diri dalam sikap yang irasional, fatalis dan traumatik. Sebagian cerpen dalam La Rangku, menguak disharmonis keluarga yang diakibatkan oleh kemiskinan, dalam karya-karya Sam Shepard, Sumpah Serapah Kaum Lapar dan Anak yang Dikuburkan, hal tersebut juga mengedepan dan menjadi titik tolak drama-dramanya, di mana cinta menjadi barang langka karena telah tergadaikan dan terkoyak-koyak oleh situasi sosial dan ekonomi, antara ayah, ibu dan anak saling mengkhianati, orientasi cinta telah terbelah.

Gaya bercerita Niduparas memanfaatkan ambang, arus kesadaran, stream of consciousness ala James Joyce, kilas balik, lamunan, masa kecil, mimpi, harapan dan angan-angan, saling berkelindan dalam cerpen-cerpen Niduparas. Bahkan dalam cerpen, Aku Harus Tidur, Purna, Niduparas mengutip sebuah judul novel James Joyce, A Potrait of the as a Young Man, hal ini menunjukkan pengarang mengagumi-terpengaruh oleh gaya bercerita James Joyce, stream of consciousness, yang kemudian ia praktekkan dalam cerpen-cerpennya, tentu saja dengan gayanya sendiri. Kadang pembaca tidak sadar bila cerita telah berpindah ruang dan waktu. Gramatikal bahasanya sering puitik, menjaga rima dan irama, serta perbadingan dan simbolisasi yang tak terduga, dengan tetap menjaga realitas cerpen itu sendiri. Apakah cerpen-cerpen Niduparas juga semacam otobiorafi dirinya, seperti novel James Joyce, karena didominasi akan rasa kehilangan kasih sayang dari orang tua, baik itu karena diterlantarkan, perceraian, maupun kematian, hanya Niduparas yang tahu, kelak bisa ditanyakan sendiri.

Cerpen-cerpen dalam La Rangku, memiliki landasan atau pijakan pada cerita rakyat atau tradisi yang menjadi subyek utama Niduparas. Menjadi ambang antara tradisi dan modernisme, ambang antara agama dan kepercayaan, ambang antara rasionalitas dan irasionalitas-magis, lokal dan global. Meski berkisah tentang realitas yang biasa kita jumpai, namun penyampian, bentuk cerita tidak realis murni. Kadang kita dikejutkan setelah usai membaca ceritanya. Dan inilah salah satu kumpulan cerpen yang mungkin bisa menyelamatkan kita dari amuk cerpen-cerpen topikal pada umumnya yang sering menghiasi surat kabar.

S Yoga

Penyair, prosais dan esais.

Anggota Komite Sastra DK-Jatim

.

Kamis, 03 Februari 2011

CERPEN PENGISAH AKUTAGAWA PLAGIAT CERPEN KAPPA






















































































































INI BAGIAN-BAGIAN CERPEN KAPPA
YANG DITULIS LAGI DALAM CERPEN DADANG















































































































































Pengisah Akutagawa dan Kappa Cerpen yang Sama

Oleh S Yoga

Ada cerpen Dadang Ari Murtono di Majalah Horison, judulnya Pengisah Akutagama, kok hampir mirip dan kalimat-kalimtanya banyak yang sama ya dengan cerpen Kappa, akutagama Ryunossuke, terjemahaan Bambang Wibawarta. Kalau yang di Kompas dan Lampung Post, kan udah lama dipermasalahkan dan Kompas juga udah mencabut cerpen itu dan dianggap tidak ada. Tapi ini yang di Majalah Horison yang orang jarang baca, aku beli awal Januari tapi baru sempat baca awal februari, monggo di baca sendiri. atau mungkin akutagama menjelma menjadi dadang. Kalau di Kappa dan Pengisah Akutagawa ada tokohnya yang bunuh diri dengan menembak kepalanya, apa mungkin Dadang juga sedang merencanakan bunuh diri. Entahlah.

Salah satunya yang sama adalah surat/sajak setelah tokoh Tock bunuh diri kalimatnya sama persis:

Ayo bangkit dan pergi

Melintasi dunia ini menuju jurang dalam

Jurang terjal penuh batu karang

Tempat air pegunungan mengalir jernih

Dan tercium wangi bunga rerumputan

Bahkan dalam sub judul yang sama persis dengan cerpen Kappa, yakni Laporan Tentang Arwah Penyair Tock, kurang lebih ada 21 pertanyaan dan jawaban, antara tokoh kami dan Nyonya Hop yang dirasuki arwah Tock, yang sama persis tanpa diedit, kata-kata/kalimat-kalimatnya.

Paling mudah baca aja sub judul Laporan Tentang Arwah Penyair Tock ke belakang, kurang lebih di terjemahan Bambang Wibawarta, berturut-turut ada 6 halaman, yang ditulis sama persis dalam cerpen Pingisah Akutagawa-Dadang Ari Murtono

80% Dadang hanya mengetik ulang cerpen Kappa

(agar jelas dibaca scan-an diatas, di klik 2x/dibesarkan)

Jumat, 17 Desember 2010

NAMA SAYA BUKAN OREZ-OREZ ITU CUMA NAMA

Jawa Pos, Minggu Pahing 11 Juli 1999

NAMA SAYA BUKAN OREZ
Cerpen : S. Yoga

Nama saya bukan Orez, kepala saya tidak besar, kasar dan benjol-benjol. Tangan dan kaki juga tidak sebesar milik Orez. Tubuh saya normal, tidak kerdil, pokoknya wujud tubuh saya normal saja. Bahkan wajah saya cukup tampan. Otak saya juga tidak idiot kayak Orez. Suara saya juga tidak sehebat dan sekeras suara Orez yang seperti gemuruh gempa bumi itu.
“Pokoknya saya bukan Orez.”
Tapi kenapa orang-orang memanggil saya dengan mana Orez. Sungguh keterlaluan.
Memang, mulanya hanya kawan-kawan masa kecil saja yang memanggil saya dengan sebutan Orez. Kata teman-teman karena saya nakal luar biasa, pernah mengencingi Sita saat bermain di selokan, menusuk ban mobil tetangga, menimpuk kakek yang lewat, dan mengembat dompet purnawirawan sehabis mengambil pensiun. Tapi itu kenakalan yang lumrah, kenakalan anak kecil. Saat itulah teman saya sering memanggil saya dengan nama Orez. Saya sendiri tidak tahu apa maksudnya dan apa maknya nama itu. Ketika saya tanyakan kenapa mereka memanggil nama saya dengan Orez, mereka pun tidak tahu apa maksudnya. Katanya, pokoknya kamu pantas menyadang nama itu. “Orez! Orez! Sayangku! Sini Orez, jangan ngembat domet ayah ya, jangan menimpuk rumah lagi ya, jangan mengores-ngoresi mobil ayah dengan tahi kuda ya, ya Orez malang berotak kosong.”
Begitu kawan-kawan bila meledek. Dengan serta merta mereka saya kejar. Bila ada yang tertangkap langsung saya hajar hingga babak belur, setengah jam kemudian pasti orang tuanya memiting telinga saya, menjewernya hingga berdarah-darah. Tapi kelakuan orang tua mereka justru tidak menyurutkan nyaliku untuk membenci keluarga itu. Maka malamnya kutebar jarum, paku di pelataran rumahnya, Saya tahu, ayahnya sebentar lagi pulang dari luar kota. Ketika mobil masuk, tak terasa apa-apa, esoknya, sekeluarga akan uring-uringan, mau melabrak saya tak ada saksi, mereka hanya marah-marah, teriak-teriak, menghujat namaku. Saya tersenyum sinis di bawah pohon jambu bol, sambil membetulkan ketapel untuk membidik burung kakaktua kesayangan keluarga itu, nanti siang bila sudah sepi.
Sejak kecil memang saya sudah dilatih berburu. Hingga dewasa berburulah hobi saya. Hutan-hutan mana yang belum saya jelajahi, tak ada lagi, semua pernah saya jelajahi, sayalah pemburu ulung. Namun banyak orang yang menyangsikan keulungan saya sebagai pemburu. Padahal petualangan saya sudah banyak saksi mata melihat dengan mata kepala dan mengikuti setiap perburuan. Tapi orang-orang tetap tidak percaya pada kisah-kisah petualangan saya. Sungguh membuat saya masygul, sedih dan terlunta. Tak kurang lusian kisah perburuan telah saya terbitkan. Itu pun tidak mereka percaya. Mereka bilang kisah itu penuh manipulasi, “bohong besar, tak ada danau di hutan ini. Orez jelas embual besar, pandai menipu sejarah, bahaya ia bila jadi penguasa.”
Jelas itu sebuah sindiran yang keras terhadap saya, dan hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena saya benar-benar bukan seorang pembual apalagi penipu sejarah, kisah petualngan berburu sesuai benar dengan peristiwa yang ada. Memang di sana-sini ada kisah-kisah lucu, ya sekedar berolok-olok, dan memang ada sedikit kisah yang berbohong, tapi ini kan supaya ceritanya dramatik, pembaca tertarik dan tidak bosan. Hal ini sudah lumrah dilakukan oleh penulis-penuli kita. Tapi mereka tetap saja tidak percaya dan terus menuduh saya hanyalah seorang penipu. Apalagi dengan menyebut-nyebut nama Orez. Dan nama itu bukan nama saya. Penghinaan besar!
Saya tak terima atas tuduhan ngawur itu. Saya bukan Orez. Kisah perburuan saya tidak fiktif. Saking marahnya. Seluruh staf perusahaan dan cabang-cabangnya saya kumpulkan. Briefing. Siapa yang berani memangil nama saya dengan sebutan Orez harus didenda atau dikeluarkan, dan jelas itu merupakan tindakan provokasi dan dengan tujuan mengina dina diri saya. Juga siapa yang tak percaya kisah-kisah saya yang telah susah-susah saya tulis juga harus dikeluarkan dari perusahaan. Dan mulai saat ini mereka wajib membaca buku-buku yang telah saya tulis, keputusan-keputusan dalam perusahaan juga harus merujuk ke dalam buku saya yang berkaitan dengan hal tersebut. “Siapa membangkang ke luar dari perusahaan.” Semua tidak ada yang bicara. Mereka tunduk. Meski pikiran mereka sulit diterka.
Tapi selalu saja ada yang lolos dari awasan saya. Pernah saya pergoki, beberapa karyawan membicarakan nama saya dengan menyebut nama Orez. Dan menghubung-hubungkan dengan tokoh-tokoh raksasa. Mereka bilang sudah sepatutnya saya dipanggil Orez, “wataknya sudah jelas merusak.” Saya tidak terima, saya sidang mereka berlima, yang sebelumnya, muka mereka sudah tidak karuan rupanya terkena jotosan tangan kiri kanan. Mereka sangat menjengkelkan, ketika saya tanya kenapa mereka menyebut saya dengan Orez? Dan bagimana asal usul dongen Orez? Mereka bungkam. “Ah, dasar pemberontak.” Sebagai imbalan ketidak hormatan mereka pada orang yang seharusnya mereka hormati. Sebelum saya pecat mereka saya jajar semalaman di atas kursi yang belakangnya saya aliri setrum listrik otomatis yang menyengat setiap dua menit. Esok paginya mereka harus berjemur seharian di tengah terik matahari tanpa busana. Setelah itu saya lepaskan. Saya pulangkan tanpa pesagon. Dan setelah kejadian itu tak ada yang berani macam-macam. Entah kenapa. Mungkin takut, tidak berani melapor. Karena yang sudah-sudah, yang berani menghinaku, selalu ditemukan tewas tertembak. Sedangkan siapa yang membunuh saya benar-benar tidak tahu.
Namun semuanya itu sebenarnya belum memuaskan diriku. Saya belum merasa lega bila belum tahu apa artinya sebenarnya nama Orez. Hingga kini tak seorang pun yang tahu dan mau menceritakan padaku. Sudah berpuluh-puluh buku saya baca, bahkan beratus-ratus tak kutemu juga nama Orez. Ensiklopedi juga tak memuat. Apalagi kamus.
Sementara permasalahan penelusuran nama Orez mulai terlupa. Muncul masalah baru. Isteriku yang kelima mau minta cerai. Ini jelas keberanian yang luar biasa. Selama ini tak ada yang merasa resah apalagi minta cerai. Semua kebutuhan telah tercukupi. Permasalahan ranjang pun, mereka selalu merasa puas. Siapa yang du balik semua itu, pikirku. Dari tempat beruru di luar pulau. Saya langsung ke rumah Ida. Saya ketuk pintu dengan ujung senapan. Ida membuka pintu. Saya berdiri tegar dengan senapan masih mengarah ke depan. Tak disangka Ida segera menubruk kaki saya, bersimpuh, meminta maaf atas ucapannya, niatannya. Segera saya angkat dia. Saya lentangkan di atas meja. Kami bersetubuh sehari penuh, seperti binatang yang lagi birahi. Dalam keadaan begini memang kami binatang.
Anak-anak juga seperti ayahnya. Mereka sungguh hobi berburu. Sudah berapa banyak binatang-binatang mati, terkena bidikannya. Beberapa banyak gadis-gadis yang juga kena jeratannya. “Dasar anak-anak mewarisi jiwa ayahnya.” Tapi mereka tak pernah pulang ke rumah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berburu. Berburu apa saja yang mereka sukai. Tak tanggung-tanggung, selain di pulau-pulau negeri ini, mereka juga berburu-buruannya di negeri-negeri lain. Mereka punya gerombolan-gerombolannya sendiri yang begitu taat pada pemimpinnya. Dan pemimpinnya, ya anak-anak saya.
Nyatanya1 Semua itu belum membahagiakan hati saya. Satu-satunya ketersinggungan saya pada siapa pun adalah sebutan nama Orez. Di belakang keberhasilan anak-anak saya, selalu diembel-embeli, “oh anaknya Orez.” Begitu pulan sebutan isteri-isteri saya, “oh isterinya Orez.” Karenanya, saya mangkel luar biasa. Siapa yang berabi menyebut-nyebut nama saya. Akan saya balas penghinaan itu.
Maka karena saya terbiasa bekerja sendiri, kalau tidak terpaksa tidak akan meminta bantuan orang lain. Semua sumber yang menyebut saya Orez, saya telusuri. Dengan bekerja tak mengenal waktu dan karena insting berburu saya. Dalam tempo kurang sebulan semua ketemu. Semua saya kasih pelajaran dengan muka tak berbentuk, ada yang mulutnya robek, jidatnya miring, kepalanya peang, kupingnya hilang, hidungnya rontok matanya juling. Semua akhirnya jadi bungkam. Dan pihak keamanan tak bisa melacak siapa pelakunya. Karena kerja saya begitu rapi dan bersih dari jejak. “Jelas naluri pemburu.”
Sementara itu, laporan-laporan dari perusahaan-perusahaan menjadi merepotkan sekali di bulan ini. Saya diharapkan segera mewaspadai datangnya bahaya badai La Nina, yang bakal rutin mengunjungi kota kami. Setiap tahun di bulan ini. Tapi di tahun ini katanya badai ini merupakan siklus 100 tahunan yang terhebat. Dengan resiko seluruh kota akan porak-poranda sama dengan 100 tahun yang lalu. Dengan laporan ini, saya tidak menganggapnya sama sekali. “Ramalan sudah biasa hanya menakut-nakuti.” Tapi laporan yang benar-benar membuat saya murka. Aadalah laporan yang hanya sehelai selebaran. Yang katanya sudah disebarluaskan ke segenap pelosok kota. Isinya menghujat saya: “Orez,” begitu mereka menyebut di selebaran, dan perusahaan-perusahaan yang saya miliki, katanya mencemarkan seluruh kota. Menghadang aliran-aliran sungai yang akan mengakibatkan banjir besar. Dan perusahaan milik saya, katanya begitu sewenang-wenang terhadap pegawai dan buruh-birihnya. Mereka sepakat besok pagi akan mengadakan dmonstrasi besar-besaran menentang perusahaan-perusahaan saya.
Oleh semua itu, sebenarnya, yang membuat saya murka bukan masalah pencemaran dan segala hal yang berkaitan dengan perusahaan. Tapi sekali lagi, karena sebutan nama, ya mereka menyebut saya dengan. “Orez.” Oh suatu penghinaan massal yang sangat memukul saya. Mereka benar-benar ingin berontak pada diri saya. Mereka harus diberi pelajaran agar tak sewenang-wenang menyebut seenaknya nama orang. Baiklah kalau memang mereka menyebut saya dengan Orez. “Padahal saya bukan Orez.” Orez yang pernah saya dengar memang sebuah dongeng. Kata nenek saya dulu, Orez seorang anak yang bermuka buruk dan berwatak perusak. Idiot namun punya sedikit rasa manusiawi. “Tapi Orez yang ini.” Karena geram, kini saya mengukuhkan diri sebagai Orez dewasa. “ Tak lagi perlu perasaan manusiawi. Toh penduduk kota sudah tidak punya perasaan. Buktinya mereka menghalangi sepak terjang saya. Pantas dihuku,.”
Malam itu bersama pemburu sewaan, saya sibuk mengatur stretegi. Karena rupanya penduduk sudah mencium dan tak mau kompromi, apalagi petugas yang rupanya memihak mereka. Benar-benar ingin menghancurkan kehidupan saya. Mereka akan membakar saya hidup-hidup. Mereka memburu saya bagai genderuwo yang harus dilenyapkan karena membawa wabah, kesengsaraan. “Baiklah.” Setelah kami berhasil mengatur siasat untuk menghancurkan mereka. Rupanya kawan-kawan pemburu saya memang dikaruniai kecerdikan luar biasa. Saya menjadi tenang. “Esok pagi! Esok pagi!” pikirku. “Kalian akan terpanggang habis.”
Menjelang fajar. Kota dikagetkan oleh suara ledakan keras. Disusul hamburan nyapa api, yang dengan cepat membakar gedung-gedung tinggi, plaza-plaza, rumah-rumah penduduk. Angin semakin kencang, kilat terus menyambar-nyamar, geluduk bergelegaran di atas kota. Penduduk berteriak-teriak berhamburan keluar dari reruntuhan, melangkahi mayat-mayat. Hiruk pikuk, menyelamatkan diri. Seluruh kota tak berfungsi, jalan-jalan hancur, jembatan jebol. Hujan menderas, kilat berjilatan di angkasa, banjir tak bisa dibendung, dam-dam ambrol. Badai mengamuk. Orang-orang marah, mencaci-maki, menghujat nama Orez. “Orez-lah yang bertindak, dia yang berbuat. Dasar Orez bajingan! Orez! Orez! Keluarlah kau, kucincang tubuhmu!” Orang-orang berlarian hilir mudik sambil membawa parang, celurit, tombak. Sedang korban terus berjatuhan, tertimpa reruntuhan, terseret banjir, disamabar halilintar, diterjang angin badai.
Tiba-tiba selebaran berterabangan dari atap gedung yang disapu angin badai. Tertulis nama Orez. Nama saya. “Siapa yang tunduk sama Orez, silahkan bergabung dan tetap di kota. Siapa yang membangkang, silahkan tinggalkan kota atau para sniper akan menghancurkan batok kepala kalian.” Begitu pesan yang saya tulia.
“Tapi siapa itu Orez? Saya samar-samar mengingatnya. Saya hampir ingat. Di antara reruntuhan gedung ini, ingatan saya mulai normal. “Memang serangan itu sangat mendadak. Jadi bukan saya yang melakukan. Pasti ada pihak ketiga. Tangan lain yang ikut campur. Bukan scenario saya. Bahkan pemburu sewaan saya. Lihatlah. Bergelimpangan di anatara reruntuhan gedung ini. Dan beberapa orang yang selamat. Termasuk saya. Tapi muka-muka mereka hancur, tak karuan.
Ah! Bayangan di cermin yang pecah berantakan di tanah dekat kaki saya. Bayangan siapa. Wajahnya mengerikan. Kepalanya benjol-benjol, tangan dan kakinya, terlalu panjang dan besar! Oh Tuhan!! Ah! Suara saya kenapa begitu keras, keras sekali. “Rumah-rumah dan gedung-gedung yang belum rontok jadi berguguran, ambruk, suara saya seperti gempa. “Tapi percayalah, perusakan yang pertama bukan saya yang melakukan. Benar! Benar! Saya jadi menyesal berteriak, berbicara, maupun mendesah. Semua akan merubuhkan apa pun di sekitar saya. Saya lebih baik diam? “Siapa yang sebenarnya yang menghancurkan kota kami, gedung-gedung saya? Siapa? Badai itu? Banjir itu? Halilitar itu? Gelegar geluduk itu? Mungkin itu penyebabnya. Tapi siapa yang menggerakkan kekuatan sedahsyat itu? Menggugah perasaan saya?”
Sesudah ini saya kira tak ada cerita yang menarik. Sesudahnya hanya kisah-kisah yang monoton, membantu mereka-mereka yang miskin, menyumbang ke yayasan-yayasan social, dengan uang simpanan saya yang tak terhitung jumlahnya dan Anda tidak akan tahu di mana saya menyimpannya. Tapi ingat, bahwa nama saya bukan Orez!
***
*Orez adalah salah satu tokoh dalam cerpen Budi Darma



Jawa Pos, Minggu Wage 18 Juli 1999
OREZ ITU CUMA NAMA

Beberapa hari yang lalu Jawa Pos membuat sebuah cerpen karangan S. Yoga berjudul Nama Saya Bukan Orez. Di situ dikatakan, nama Orez diambil dari judul cerita pendek saya, yaitu Orez, dalam kumpulan cerita pendek Orang-Orang Bloomington. Kemudian, di situ diceritakan Orez adalah seorang yang tidak mempunyai moral, sangat nakal dan kurang ajar, cacat fisik namun mempunyai kemampuan fisik yang luar biasa. Memang betul, semuanya diambil dari kumpulan cerita pendek Orang-Orang Bloomington. Dan, nuansa-nuansa dalam cerpen Nama Saya Bukan Orez kecuali diambil dari berbagai cerpen di buku Orang-Orang Bloomington –jadi bukan hanya pada Orez saja- juga diambil dari novel Olenka dan juga dari cerpen saya terakhir yang dimuat di Kompas,yaitu Derabat, yang mengisahkan pemburu dan sebaginya.
Kemudian, dipertanyakan oleh S. Yoga, pengarangnya, tokoh sentral dalam cerpen Nama Saya Bukan Orez itu tidak tahu makna Orez. Sebetulnya, Orez itu apa, tapi orang menunduh dia sebagai Orez dan tidak mau mengganti namanya, tapi dia tetap dinamakan Orez, karena itu dia marah.
Nama Orez sebetulnya saya sendiri mula-mula tidak tahu. Mengapa tidak tahu karena setiap kali saya mengarang saya tidak pernah merencanakan untuk mengarang. Demikian juga ketika menulis cerpen Orang-Orang Bloomington saya tidak punya rencana sama sekali untuk menulis cerpen-cerpen tersebut. Dengan demikian, nama-nama, peristiwa-peristiwa, dan sebagainya itu datang dengan sendirinya, termasuk nama Orez.
Jadi, siapa nama Orez ini saya sendiri sebenarnya tidak tahu, tapi biasanya setelah saya selesai menulis, setelah karya tersebut diterbitkan, kadang-kadang saya bertanya kembali mengapa nama ini muncul, mengapa peristiwa ini muncul. Dan, nama Orez yang muncul saat saya menulis itu ternyata pengendapannya sudah cukup lama, yaitu sekitar 7-8 tahun. Sebelum menulis cerpen itu, saya pernah mengadakan perjalanan keliling dengan Sapardi Djoko Damono di Amerika dengan mempergunakan pesawat terbang, bus, kereta api, kendaraan sewaan, dan sebagainya. Pada waktu keliling ke mana-mana itu, saya menemukan satu nama, yaitu nama Orez. Nama itu terpampang di sebuah iklan di kota kecil. Tapi, saya tidak ingat lagi iklan apa dan di kota mana saya melihatnya. Jadi, nama Orez ini kemudian mengendap dan setelah itu, ketika saya menulis cerpen Orang-Orang Bloomington, langsung muncul nama ini.
Nama Orez ini sebetulnya berkaitan dengan peristiwa korban ketika Nabi Ibtahim diminta memotong anaknya, Ismail. Orez dalam cerita pendek itu (dalam kumpulan Orang-Orang Bloomington) karena ayahnya merasa kasihan pada anaknya dan anaknya diperkirakan tidak mungkin hidup normal lagi, maka akanya itu harus dibunuh. Pada saat akan membunuh, ternyata ayahnya tidak mampu untuk membunuhnya karena bagimanapun Orez itu manusia dan dia lahir bukan karena minta dilahirkan, melainkan karena solah tingkah ayahnya sendiri, karena itu kemudian diantarkan pulang.
Jadi, Orez ini sebetulnya pencerminan pencarian jati diri, yaitu mengapa seseorang bisa lahir seperti itu, cacat tapi mempunyai kemampuan fisik luas biasa, bersifat merusak tapi kadang-kadang juga bersifat baik. Orez ini adalah satu jenis makhluk yang tidak minta dilahirkan kenapa seperti ini, seperti juga makhluk lain. Karena itu, cerpen-cerpen saya banyak mempermasalahkan orang-orang aneh. Sebab, memang, kita bertanya mengapa dunia ini demikian aneh, mengapa ada orang-orang seperti ini, mengapa ada orang seprti itu, mengapa dia lahir tahun ini, tidak sebelumnya, mengapa dia lahir di sini dan tidak di negara lain, mengapa anak orang ini dan bukan orang lain, dan sebagainya.
Dengan adanya cerpen S. Yoga itu, memang saya sama sekali tidak dirugikan dan tidak merasa keberatan apa-apa. Sebab, sebuah cerpen yang sudah diterbitkan bebas untuk ditafsirkan oleh siapa pun dan juga bebas untuk direjreasikan oleh sipa pun, seperti yang dilakukan S. Yoga. Jadi, karya sastra itu menggelinding untuk menjadi karya sastra yang lain. Ini tidak apa-apa. Jadi, dengan adanya cerpen S. Yoga itu bukan lantas saya harus memberikan penjelasan dalam arti sesungguhnya, tapi saya hanya menyampaikan latar belakang karena memang S. Yoga dalam cerpennya mengatakan bahwa saya tidak tahu mengapa saya dinamakan Orez dan dalam pandangan umum Orez itu adalah makhluk yang demikian. Pertanyaan ini sebenarnya banyak ditanayakan orang-orang lain uang kebetulan tidak menulis. Kebetulan, S. Yoga menuliskannya dalam bentuk cerpen.
(Budi Darma)