

mantraku terbang bersama malam bernafsu adakah yang tak akan goyah karena goda dan rayu
SABDA DARI NERAKA
Oleh : S Yoga
Dari beberapa manuskrip puisi dalam rangka lomba FSS 2011, brtema anomali, rata-rata puisi yang ada masih dalam eksplorasi bahasa yang standar, dengan capaian puitik yang juga sama, dengan yang sering kita jumpai di koran-koran, kecuali dua manuskrip dan salah satunya Syair Pemanggul Mayat karya Indra Tjahyadi. Puisi-puisi Indra merupakan apokaliptik, surealisme, dengan bahasa teror, menderam, liar dan tak terduga, ada keterputusan gramatikal dan kekacuan pikiran. Membuat kita tersesat dalam strukturalisme puisi-puisinya. Indra berdiri dari realitas yang asing, sebuah menara kegelapan sambil memfirmankan, sabda dari neraka dunia. Dan kegelapan ini telah membawaku sampai pada sebuah/sungai, tempat mereka membakar mayat-mayat tak/dikenal......hujan merah yang memancar dari wajah/iblis yang mengangkut seribu kisah bayang-bayang/dan kegelapan, sajak Inferno. Membaca puisi-puisi Indra, saya teringat lukisan Salvador Dali, ada jam dan perempuan meleleh, serta lukisan-lukisan surealisme yang menakjubkan, ganjil, unik dan anomali.
Bagi Indra surealisme adalah jawaban dan gambaran yang tepat dari realitas sosial yang mencekam, represif dan informasi yang tak bisa dipercaya. Hingga tema puisi-puisinya didominasi kecemasan, seolah dunia merupakan neraka dan harus dihancurkan guna memulai tatanan dunia baru. Surealisme, super realis, “yang melampaui kenyataan”, begitu menurut pencipta istilah tersebut; Guillaume Apollinaire, mulai diperkenalkan oleh Andre Brenton-penyair Perancis, pada tahun 1924, ia mencetuskan Manifesto Surealisme. Andre Breton menyerukan pembebasan potensi-potensi terpendam dalam diri manusia, di alam bawah sadar, yang telah terkekang oleh rasio dan kebiasaan, membiarkan imajinasi liar bekerja secara bebas.
Dalam puisi-puisi surealisme, apokaliptik, penyair berharap menemukan paduan antar kata dalam sebuah metafor yang mengejutkan dan baru, tidak terpancang pada logika struktural dan konvensi umum sebuah puisi. Mereka mencoba menerapkan temuan psikoanalisis Sigmun Freud dari Austria antara tegangan id dan ego. Yakni antara naluri-naluri dan hasrat-hasrat utama kita (id) dan corak perilaku kita yang lebih beradab dan rasional (ego). Freud percaya bahwa, mengesampingkan desakan tuntutan untuk menekan hasrat-hasrat, yang ada di pikiran bawah sadar tetap menampilkan dirinya, terutama ketika pikiran yang sadar melonggarkan cengkeramannya; dalam mimpi, mitos, corak kelakuan ganjil, terpelesetnya lidah, ketidaksengajaan dan seni. Dalam pencarian untuk mendapatkan akses ke alam pikiran bawah sadar, para surealis menciptakan bentuk dan teknik baru seni yang radikal.
Puisi gelap, apokaliptik dan surealisme, tidak rasional, sebenarnya sudah marak pada tahun 1950-1960, di mana pada waktu itu banyak puisi yang susah dimengerti dan dinikmati. Kemudian muncul juga pada tahun 70 dan 80-an, misal lewat puisi-puisi penyair Kriapur, Solo. Seolah gelombang yang secara siklus terus mengempur kesadaran rasional kita di zaman modern. Puisi-puisi dalam Syair Pemanggul Mayat, seolah-olah melakukan pelarian kedalam keterasingan terhadap pikiran-pikiran pembaca, mengambil jarak, menjauhi akal sehat dan imajinasi pembacanya. Puisi-puisinya sangat subjektif, alienasi dirinya terhadap dunia sekitarnya. Sarat imajinasi, pembebasan imaji, dan metafor, kata-kata adalah imajinasi. Yang seringkali meloncat-loncat, tidak sinkron, retak-retak dari bangunan imaji sebelumnya. Puisi dipahami sebagai sebuah teks (writerlytext) yang cerai berai, retakan-retakan peristiwa. Dalam gelap rimba imajinasi, kita berharap bisa mendapatkan sejumput kearifan dan keindahan yang dilanturkan. Diperlukan studi intertektualitas-Julia Kristeva, untuk menguak modus operandi puisi yang tidak bisa sekedar didekati dengan strukturalisme. Macam puisi Indra Tjahyadi dan Afrizal Malna. Bila dalam puisi-puisi Afrizal Malna melakukan teror lewat diksi-diksi urban-budaya masa, Indra melakukan teror lewat maut, kecemasan, kehampaan, anomali dan hal-hal yang seram-seram. Seolah sabda dari neraka.
Karena itu dalam menelaah puisi semacam ini, perlulah juga melihat struktural semiotik dan latar seting sosial budaya. Di mana kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, di mana kepastian politik, sosial, dan hukum (ketidakadilan) sangat berperan. Namun kegelisahan Indra dalam manifestasinya tidak muncul dalam karya sastra kritik sosial atau puisi protes. Indra lebih memilih dalam gambaran dari bentuk pemerintahan yang reprensif itu sendiri. Dalam wadah sebuah ekspresi simbolik yang subyektif. Yang mencerminkan sebuah zaman kegelapan, di mana struktur kekuasaan yang otoriter dalam tataran sosial, ekonomi dan hukum begitu dominan, keterasingan masyarakat begitu mengedepan. Maka puisi-puisi Indra benar-benar kelam, cemas, seram, gelap, erotis, liar, sebagai bentuk perlawanan realitas sosial yang ada, yang ingar-bingar dengan kekerasan, penembakan, pembunuhan, pengusuran dan ketidakadilan yang merajalela, di mana hukum menjadi barang dagangan dan kebijakan menjadi persengkongkolan (partai) politik.
Sehingga wajar bila judul-judul puisi Indra yang serba seram, menakutkan dan liar; Kembali ke Neraka, Syair Penyair Pemanggul Mayat, Jisim Requim Muram Hantu-Hantu, Hantu Pasir, Siulan Hitam Raut Kematian, Kulukis Mayatku, Terkurung di Dasar Maut, Mata Mayat Penyembelih Kupu. Kata-kata neraka, maut, labirin, mayat, hantu, kematian, kegelapan dan bayang-bayang seolah-olah menjadi kata-kata kunci dalam puisi-puisi Indra.
Rupanya Indra lebih memilih sebuah paradigma atau ideologi dalam perjuangan literernya yakni surealisme yang cenderung kedalam kegelapan, di mana bentuk-bentuk strukturalisme kaku ia tentang. Hingga bila memahami puisi Indra dengan cara strukturalisme baku maka akan sia-sia, yang akan ditemui hanyalah kegelapan semata. Karena puisi Indra adalah retakan-retakan realitas yang tidak bisa atau terpahami lagi, karena kegelapan peristiwa yang ada, realitas yang ada bagai jaring-jaring labirin yang tak bisa diurai dan ditemukan siapa pelaku, bagaimana bisa terjadi, apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana bisa keluar dari kenyataan yang ada. Indra tak bisa memahami realita itu semua, karena yang ada hanya kabar burung tanpa ada sebuah kebenaran yang bisa dipengang.
Bila hingga kini Indra masih tekun menulis dengan cara demikian, puisi apokalitik, gelap, surealisme, berarti ia masih meyakini bahwa pada zaman sekarang ini, yang katanya menjunjung demokratisasi dan keterbukaan ternyata masih menyimpan labirin-labirin kegelapan yang susah untuk dibongkar, semisal mafia peradilan dan korupsi rente dalam sebuah birokrasi. Maka Indra memilih menjelajahi dan merayakan alam mimpi dan pikiran bawah sadar, yang menekankan pada irasionalitas kemanusiaan.
***
S Yoga
Penyair, prosais dan esais.
Anggota Komite Sastra DK-Jatim.



SEPOTONG CINTA YANG TERBELAH
Oleh : S Yoga
Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya cerpen-cerpen yang biasanya kita kenal di media masa, atau lebih dikenal dengan cerpen koran, cenderung bersifat informatif, dari berita ke cerita. Mereka mencoba mengekalkan laporan jurnalistik ke dalam sebentuk cerita. Kadang-kadang tanpa memperhatikan seluk beluk hakikat cerpen itu sendiri, seolah-olah cerpen hanyalah tulisan informatif, bahasa menjadi alat penyampaian pesan, tanpa memperhatikan bagaimana cerpen itu sesungguhnya dipertaruhkan. Apa sekedar dengan tema besar, pesan menohok, alur-plot dramatik, penuh suspens yang dipaksakan. Atau sebenarnya cerpen hanyalah hakikat sastra itu sendiri yakni tulisan, di mana tulisan atau lebih tepatnya racikan cerita mampu memberikan kehidupan tersendiri bagi cerita yang hendak dikisahkan.
Memang seringkali kita jumpai kisah dalam cerpen-cerpen koran pada umumnya telah tersingkir, dan hal ini telah disinyalir oleh Kutowijoyo dekade 90an. Dan yang lebih mengedepan adalah pesan, yang mengendarai bahasa, bahkan lebih tragisnya, pesan itu pada prinsipnya bukan suara tokoh-tokoh dalam kisah tersebut, mereka hanya dipinjam namanya untuk menyuarakan opini pengarangnya. Maka tak heran kalau kita jumpai banyak cerpen seolah artikel opini, yang kebetulan dibuatkan kisah, seting, alur dan tokoh. Cerpen berubah fungsi menjadi juru kampanye kemiskinan, kebenaran, politik-sosial-hukum, ketidakadilan, dan tentu saja cinta yang melankolis. Cara ungkap mereka seperti sastra didaktis, moral yang tersurat. Mereka mengabaikan kesadaran berbahasa, pernak-pernik dan detail, rincian cerita, serta kesabaran berkisah.
Ibarat sebuah lukisan, semua detail-detail, pernik-pernik obyek lukisan mampu dituangkan ke dalam kanvas dengan baik sehingga ujud yang hendak dikisahkan benar-benar sempurna. Kalau mau melukis wajah maka semua elemen wajah, bahkan hingga pori-porinya dapat terdeteksi, begitulah dunia cerpen sebenarnya terwujud, tentu saja dengan suntingan agar cerita tetap wajar dan memikat, di mana daya simpati dan empati tetap terjaga. Kadang kita membaca tanpa sadar terombaang-ambing ke dalam cerita itu karena tidak dapat menebak racikan cerita berikutnya. Pembaca menjadi subyek aktif dalam kisah yang dibacanya. Bukan menjadi obyek sang pengarang dalam menyampaikan pesan, seolah-olah mendudukkan si pembaca sebagai seseorang yang bodoh dan perlu dikhotbahi, diceramai tentang kebajikan dan lain-lain. Dengan bahasa yang gagah bak politisi, kyai, pendeta, pejabat, memberikan wejangan pada pembaca, seolah kebenaran hanya mereka yang tahu.
Demikianlah gambaran umum lomba manuskrip cerpen FSS 2011 yang mengambil tema Anomali, bahasa cerpen didudukkan pada bahasa sebagai alat penyampian pesan, bahkan berusaha sebagai agen perubahan, tak beda dengan watak jurnalistik. Padahal kita tahu sastra adalah kisah itu sendiri, yang memberikan keaktifan kepada pembaca untuk menafsir ulang, bahkan berulang-ulang, akan menemukan hal yang baru, tidak sekedar kesan dan pesan yang tersurat. Ada pernik-pernik yang menarik di dalamnya, bisa cerita itu sendiri, bahasa, racikan bercerita. Pernik-pernik inilah yang bisa membuat sebuah cerpen menjadi menarik dan memikat. Tidak terburu-buru menjalin kronologis demi mengejar dramatik, sehingga bahasa menjadi propaganda si penulis dalam menyampaikan pesan, bahasa menjadi tidak wajar. Mestinya bahasa tumbuh dari darah dan daging kisah dan tokoh yang ada dalam cerita itu.
Bahkan sebagian besar peserta lomba tidak siap dengan apa yang dinamakan manuskrip lomba cerpen, sehingga antar lini cerpen tidak memiliki kekuatan yang merata. Misal dari 10/15 cerpen yang ada, hanya 3-5 cerpen saja yang memiliki kekuatan atau unggulan, lainnya hanya untuk memenuhi ketebalan halaman. Kumpulan cerpen itu menjadi njomplang, tidak seimbang. Namun untunglah kita menemukan manuskrip cerpen La Rangku, yang antar lini cerpennya memiliki keseimbangan kualitas, sehingga layak untuk diterbitkan ke dalam sebuah kumpulan cerpen.
La Rangku, sendiri merupakan tokoh dalam mitos, cerita rakyat suku, masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara, yang dikorbankan orang tuanya guna menggapai sesuatu yang diinginkan. Dalam tradisi masyarakat Muna kemudian dikenal dengan festival layang-layang setelah panen tiba, sebagai penghormatan. Dalam manuskrip La Rangku karya Erlang Niduparas, bahasa sebagai piranti cerita cukup disadari, kesadaran berbahasanya cukup tinggi dalam kaitan cerpen sebagai karya sastra, sehingga ceritanya nampak hidup, bukan dihidupkan dengan bahasa pesan pengarangnya, namun bahasa mensublim dalam bentuk cerita. Dari peristiwa ke peristiwa mampu ia racik dengan kesadaran bahasa yang baik. Tidak seperti umumnya cerpen koran yang ada, meski cerpen-cerpen ini sebagian juga dimuat di koran. Namun mampu menunjukkan jati dirinya sebagai cerpen yang benar-benar berwatak sastra. Tema atau motif utama kadang hanya dikesankan dan disiratkan saja.
Semua cerpen dalam La Rangku, diikat dalam tema utama, yakni tentang cinta (pengorbanan, perceraian, perselingkuhan, cinta terlarang, ketersaingan dan kehilangan). Tema ini memang sangat umum dan biasa-biasa saja, namun demikian di tangan Erlang Niduparas, kisah tersebut menjadi unik dan menarik, misal dalam Gaco, yang merupakan sebuah alat dan permainan anak-anak, yang bisa berubah menjadi simbol perselingkuhan dan seksualitas. Demikian juga dengan judul-judul lainya semisal Sula, Tarawengkal dan La Rangku, yang memanfaatkan tradisi dan kisah rakyat menjadi cerita yang menarik tentang terkoyak dan terbelahnya cinta manusia. Entah kebetulan atau tidak dari masing-masing cerpen ada yang interteks, saling terkait-mengisi-berkelindan dalam keterbelahan cinta. Ada kegetiran dan ironi dalam beberapa karya-karyanya yang dibalut kemiskinan. Bagaimana memaknai rasa cinta kasih dalam deraan kemiskinan, di mana tokoh-tokohnya melarikan diri dalam sikap yang irasional, fatalis dan traumatik. Sebagian cerpen dalam La Rangku, menguak disharmonis keluarga yang diakibatkan oleh kemiskinan, dalam karya-karya Sam Shepard, Sumpah Serapah Kaum Lapar dan Anak yang Dikuburkan, hal tersebut juga mengedepan dan menjadi titik tolak drama-dramanya, di mana cinta menjadi barang langka karena telah tergadaikan dan terkoyak-koyak oleh situasi sosial dan ekonomi, antara ayah, ibu dan anak saling mengkhianati, orientasi cinta telah terbelah.
Gaya bercerita Niduparas memanfaatkan ambang, arus kesadaran, stream of consciousness ala James Joyce, kilas balik, lamunan, masa kecil, mimpi, harapan dan angan-angan, saling berkelindan dalam cerpen-cerpen Niduparas. Bahkan dalam cerpen, Aku Harus Tidur, Purna, Niduparas mengutip sebuah judul novel James Joyce, A Potrait of the as a Young Man, hal ini menunjukkan pengarang mengagumi-terpengaruh oleh gaya bercerita James Joyce, stream of consciousness, yang kemudian ia praktekkan dalam cerpen-cerpennya, tentu saja dengan gayanya sendiri. Kadang pembaca tidak sadar bila cerita telah berpindah ruang dan waktu. Gramatikal bahasanya sering puitik, menjaga rima dan irama, serta perbadingan dan simbolisasi yang tak terduga, dengan tetap menjaga realitas cerpen itu sendiri. Apakah cerpen-cerpen Niduparas juga semacam otobiorafi dirinya, seperti novel James Joyce, karena didominasi akan rasa kehilangan kasih sayang dari orang tua, baik itu karena diterlantarkan, perceraian, maupun kematian, hanya Niduparas yang tahu, kelak bisa ditanyakan sendiri.
Cerpen-cerpen dalam La Rangku, memiliki landasan atau pijakan pada cerita rakyat atau tradisi yang menjadi subyek utama Niduparas. Menjadi ambang antara tradisi dan modernisme, ambang antara agama dan kepercayaan, ambang antara rasionalitas dan irasionalitas-magis, lokal dan global. Meski berkisah tentang realitas yang biasa kita jumpai, namun penyampian, bentuk cerita tidak realis murni. Kadang kita dikejutkan setelah usai membaca ceritanya. Dan inilah salah satu kumpulan cerpen yang mungkin bisa menyelamatkan kita dari amuk cerpen-cerpen topikal pada umumnya yang sering menghiasi surat kabar.
S Yoga
Penyair, prosais dan esais.
Anggota Komite Sastra DK-Jatim.












Oleh S Yoga
Ada cerpen Dadang Ari Murtono di Majalah Horison, judulnya Pengisah Akutagama, kok hampir mirip dan kalimat-kalimtanya banyak yang sama ya dengan cerpen Kappa, akutagama Ryunossuke, terjemahaan Bambang Wibawarta. Kalau yang di Kompas dan Lampung Post, kan udah lama dipermasalahkan dan Kompas juga udah mencabut cerpen itu dan dianggap tidak ada. Tapi ini yang di Majalah Horison yang orang jarang baca, aku beli awal Januari tapi baru sempat baca awal februari, monggo di baca sendiri. atau mungkin akutagama menjelma menjadi dadang. Kalau di Kappa dan Pengisah Akutagawa ada tokohnya yang bunuh diri dengan menembak kepalanya, apa mungkin Dadang juga sedang merencanakan bunuh diri. Entahlah.
Salah satunya yang sama adalah surat/sajak setelah tokoh Tock bunuh diri kalimatnya sama persis:
Ayo bangkit dan pergi
Melintasi dunia ini menuju jurang dalam
Jurang terjal penuh batu karang
Tempat air pegunungan mengalir jernih
Dan tercium wangi bunga rerumputan
Bahkan dalam sub judul yang sama persis dengan cerpen Kappa, yakni Laporan Tentang Arwah Penyair Tock, kurang lebih ada 21 pertanyaan dan jawaban, antara tokoh kami dan Nyonya Hop yang dirasuki arwah Tock, yang sama persis tanpa diedit, kata-kata/kalimat-kalimatnya.
Paling mudah baca aja sub judul Laporan Tentang Arwah Penyair Tock ke belakang, kurang lebih di terjemahan Bambang Wibawarta, berturut-turut ada 6 halaman, yang ditulis sama persis dalam cerpen Pingisah Akutagawa-Dadang Ari Murtono

mereka turun dari kapal di gelap malam
membawa senter, oncor dan peta masa lalu
dan gerimis senja mengantarnya pada hutan belukar
di sebuah tempat yang tak terduga
sebuah semenanjung di sebuah pulau
tempat budak-budak diternak
terdengar lolong serigala di perbukitan
tubuhnya bercahaya di antara bayangan bulan
dan hutan yang terbakar
rupanya bayang-bayang lebih gaib dari pikiran
karena ia selalu lepas dari genggaman
beri aku senapan, beri aku peluru teriakmu
ketika mendengar suara-suara binatang malam
kubisikkan kata-kata muram sebelum matanya lebih jalang
tunggu semua burung-burung pulang ke sarang
agar kau jumpai pikiran lepas dengan badai ingatan
ah kau inlander tahu apa tentang masa lalu
aku pun diam di bawah pohon besar
dekat sebuah makam purba bernisan batu
aku pun tahu sebentar akan sampai pada batas
di pantai ini hanya nasib yang mempertemukan
sebelum esok pagi kita pergi ke besuki
panarukan, panji dan asembagus
melihat pabrik-pabrik dan bising mesin
meminta kita untuk kembali ke masa-masa silam
ketika senjata menjadi panglima
dan pikiran-pikiran berputar-putar pada hasrat dunia
pejamkan matamu dan kau akan melayari semua impian
yang pernah terlupakan, sebelum tergadaikan
di pagi hari di pelabuhan jangkar sebelum gempa
kau memandang kapal-kapal yang berkabut
terdampar di pelupuk matamu yang biru
asap dan bayang-bayang masih menyelimuti
sebuah pulau, nun jauh di sana yang tak terjangkau
seolah diterjunkan dari bukit-bukit tandus
kebun-kebun tebu, sawah dan ladang hangus
dan di pabrik gula, mesin-mesin terus bekerja
memeras keringat dari madu kemurnian
dan sungai-sungai dipenuhi kegelapan
mengalir dari hulu menuju muaramu
sebelum kau layarkan ke pulau-pulau asing
tempat terjauh yang tak pernah kukenal
sebuah gudang tua milik tuan tanah
menyimpan sejarah gelap perbudakan
di ladang tebu, tembakau dan perkebunan
tubuh yang hitam berdiri memandang senja
di antara sihluet patung raksasa berambut gimbal
kau duduk di antara pohon-pohon tua
di pelabuhan kau berteriak, ini juga tanah airku
kau ambil peta dan kau bubuhi tanda
dulu aku juga dilahirkan di sini
aku tenggelam dalam kenangan
bunga harum yang kuharap telah jadi bangkai
ah kau hanya merayu untuk sesuatu yang sesat
ini bukan birahiku di antara sepi dan api
tapi hanyalah lelaki jalang yang mengembara
di antara pulau-pulau yang masih perawan
dan tanah-tanah yang minta diberkahi
aku beri tanda dan kau hanya bisa tengadah
nyalakan obor di kandang dan gubuk sebagai tawanan
hambamu hanyalah hamba yang tunduk pada takdir
kau hanya boleh memainkan kincir di batas mimpi
bau kemarau masih menyimpan tubuhmu dari seberang
di tanah ini telah kau tandai waktu dan sejarah
dengan pabrik, lori, tebu, tembakau dan kapal-kapal
agar masa lalu bisa terulang dan aku terkenang pada noni-noni
ah wajahnya putih susu dan betisnya seharum bunga leli
sedang bau keringatku seapek tembakau di gudang tua
kini kami mainkan tambur dan genderang di ladang-ladang
agar semangat kerja menjadi doa dan pahala
Situbondo, 2008
Kompas, Minggu, 23 Maret 2008

LAYANG -LAYANG
layang-layang adalah masa kecil yang hilang
ia terbang ke atas dan turun menukik
dan sesekali menyambar-nyambar angin
ketika putus kau terperanggah dan menangis
lalu bangkit dan mengejar-ngejar bayangan
melintasi sawah, ladang, rumah dan menara
ke arah susuh angin yang tak kutahu di mana rimbanya
yang begitu sempurna mempermainkan sayap sihirnya
dalam pengejaran ini aku semakin tercekam
ketika memasuki senja dengan cahaya suram
yang kulihat hanya bayang-bayang gelap
yang mengejar-ngejar dan mempermaikan waktu
Ngawi, 2008

LUDRUK
ia rias wajahnya agar lebih cantik
ia menjadi sang putri malam ini
bukan sebagai lelaki yang biasa ia lakoni
yang datang dari rasa birahi
di panggung penonton masih sepi
ia ingat bedak terakhir yang tersimpan di laci
agar wajahnya tambah putih bunga leli
menyempurnakan penyamaran hari ini
atas riwayat hidup yang ingin dilupakan
dulu ia pernah menjadi tokoh yang gagal
kini ingin berganti peran dan nasib
agar semua rahasia bisa tersingkap
agar kenangan masa lalu bisa terkubur
dan bayangan sunyi sehabis subuh bisa berganti
ia mondar-mandir di tengah panggung
seperti hendak menanti eksekusi
ia berkidung agar semangat tidak luntur
sementara penabuh gamelan masih tertidur
tukang parkir sudah seminggu libur
ia ke tengah tobong menghitung kursi kosong
ia memandang panggung dan menyaksikan
permainan yang sesungguhnya sedang dimulai
ia lihat bayang-bayang dirinya di jendela kamar
bergincu tebal sambil melambaikan tangan
tanjung perak mas
kapale kobong
monggo mampir mas
kamare kosong
Surabaya, 2008
Kompas, 14 September 2008